Gw dan Java Jazz Festival

Siapa bilang musik Jazz hanya dinikmati oleh sebagian orang-orang berduit alias kaya. Musik Jazz sudah membumi dan merakyat di negeri ini. Tapi tidak dengan tukang-tukang parkir "outsourcing" pada pagelaran Java Jazz ke 5 tanggal 5, 6, 7 Maret 2009 lalu. Mungkin dia menganggap semua yang pada nonton adalah orang-orang yang berduit.

"...kan Jazz mas...!!!" jawabnya "berkelas" saat gw komplen soal Rp. 20.000 untuk parkir. Gile... Trus kalo ini pagelaran dangdut? musik pop? rock? campur sari? berapa jadinya.. lebih murah kali ya? dalam hati gw bertanya-tanya..

0 komentar:

Telephone umum hari ini

Disalah satu sudut Jakarta, telephone umum telah beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan krupuk dan styrofoam tukang bubur.

Dulu telephone umum seperti ini menjadi idola saya dikala saya berada diluar rumah. Dijaman handphone belum menguasai hajat hidup orang banyak. Disaat itu banyak kenangan indah tentangnya. Tanpanya saya akan berdiri menunggu tanpa kepastian kehadiran seseorang. Tanpanya mungkin saya akan terkena tegur karena tagihan telephone rumah naik. Tanpanya mungkin akan terasa seperti ketinggalan handphone dirumah.

Di Jakarta, sebuah fasilitas publik belum tentu selamat dari tindakan iseng atau vandalisme oleh sebagian dari publik itu sendiri. Entah dicorat-coret atau pada tingkatan yang lebih ekstrim, pengerusakan. Tindakan tersebut sangat tidak "saya banget", saya lebih senang dengan yang lebih kreatif. Teringat akan seorang teman melubangi koin seratusan logam dan diikatkan benang sehingga ia dapat menelpon berulang kali, ia menamakannya koin tarik. Lain hal dengan telephone umum didepan SMA saya dulu, seorang teman bahkan bisa membajak telephone umum tersebut sehingga tanpa koin pun ia bisa menelepon dengan gratis.

Seiring dengan perkembangan wartel-wartel, pager dan kemudian handphone, telephone umum seperti tidak terlihat eksistensinya. Walaupun masih terlihat dibeberapa tempat, namun kehadirannya hanya seperti pelengkap dekorasi kota. Tak terlihat antrian panjang disebuah telephone umum seperti apa yang saya alami pada jaman keemasannya.

1 komentar:

Aku dan jantung

Aku sendiri dengan detak jantung
Bersautan dengan detik detik jam yang bergulir
Entah sudah berapa kali ia berdetak
Satu yang pasti, apa yang dikerjakannya
Membuat aku masih hidup sampai saat ini

Aku sendiri dengan detak jantung
Bersama tenggelam dikedalaman air
Bukan untuk mati
Hanya untuk mendengarkan suara
Degup-degup kehidupan

Aku sendiri dengan detak jantung
Mengikuti ketukan tiap-tiap nafas
Begitu indah
Seperti ketukan sebuah mesin drum
Mengiringi ritme sampai akhir lagu

Aku sendiri dengan detak jantung
Merasa beruntung dan bersyukur
Betapa ia berjalan tanpa ku suruh
Untuk suatu tujuan yang pasti
Sebuah pelajaran bagi yang berpikir

Pagi, Ciumbuleuit, 20 Maret 2009

0 komentar: